ads

Senin, 24 November 2008

ATASI KRISIS ENERGI & GLOBAL WARMING DENGAN TEKNOLOGI NUKLIR

Kenaikan harga bahan bakar di Indonesia semakin memicu perdebatan dikalangan
masyarakat bahkan para wakil rakyat. Semakin menipisnya sumber energi tak terbarukan
(seperti minyak bumi, gas, dan batu bara yang menjadi sumber energi listrik terbesar di dunia)
mendorong putra putri bangsa untuk berkontribusi dalam menciptakan sumber energi
alternatif. Namun, penawaran solusi tersebut sepertinya berhenti sampai pada tahap
penyampaian pendapat saja, belum ada upaya merealisasikan secara pasti.
Ketika krisis listrik kembali terjadi, yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki
jaringan, menambah daya terpasang, meningkatkan menejemen operator, lalu tentu saja rakyat
kembali dibebankan kenaikan harga termasuk tarif dasar listrik. Di lain pihak, pemerintah telah
mengupayakan pemanfaatan sumber energi alternatif lain dengan perencanaan pemanfaatan
teknologi nuklir. Akan tetapi upaya ini belum juga terealisasi dengan baik, karena pemerintah
memiliki pertimbangan tersendiri mengenai pemanfaatan energi nuklir,serta masih mengkaji hingga
lingkup efek positif dan negatif tidak lagi menjadi perdebatan yang akan merugikan bagi
pemerintah. Di kalangan masyarakat sendiri masih muncul tanggapan pro dan kontra terhadap
kebijakan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Hal tersebut muncul dikarenakan masih minimnya pendidikan mengenai teknologi
nuklir dikalangan masyarakat. Bagi sebagian masyarakat awam, kata nuklir erat kaitannya
dengan kehancuran, kerusakan, dan sesuatu yang mematikan. Hal tersebut yang menyebabkan
ketakutan, sehingga beberapa orang, kelompok, bahkan negara memilih untuk tidak
memanfaatkan energi nuklir.
Padahal, jika ditilik lebih lanjut, pemanfaatan energi nuklir yang tepat akan lebih
menguntungkan dan lebih efisien. Selain jumlah ketersediaan bahan bakar nuklir yang melimpah,
dan biaya bahan bakar yang rendah, kelebihan dari aplikasi penggunaan PLTN adalah tidak
terbentuknya emisi gas rumah kaca, karena tidak menggunakan peralatan proteksi lingkungan
seperti DeSOx dan DeNOx. Dengan penggunaan PLTN, message.polusi udara oleh gas-gas
berbahaya seperti karbon monoksida, aerosol, mercury, sulfur dioksida, nitrogen oksida, partikulate,
atau asap fotokimia dapat dikurangi.
Pertimbangan tersebut menyebabkan semakin diperlukannya energi nuklir, akan tetapi
masyarakat Indonesia sendiri pada umumnya masih terprovokasi oleh isu-isu mengenai
bahaya nuklir terutama atas limbah nuklir. Berbagai sosialisasi mengenai pembangunan PLTN
dan tenaga nuklir sudah mulai dilaksanakan, akan tetapi belum dapat menjawab kegelisahan
masyarakat mengenai langkah untuk mengatasi limbah nuklir tersebut. Banyak program
sosialisasi yang hanya membahas mengenai bahaya nuklir tanpa mau memberikan informasi
dampak positif dari penggunaan tenaga nuklir tersebut.
Masyarakat juga masih berfikir bahwa energi alternatif seperti biofuel, gelombang
laut, sinar matahari dan gas bumi mampu mengatasi krisis listrik tanpa harus mengeluarkan dampak
limbah berbahaya sepperti limbah nuklir. Namun, pada dasarnya semua energi alternatif tersebut
tidak dapat memberikan dampak signifikan terhadap permasalahan krisis energi. Jika memang
ingin membebaskan bangsa ini dari krisis energi yang harus dilakukan terlebih dahulu ialah
menumbuhkan kepercayaan masyarakat mengenai kebermanfaatan tenaga nuklir dengan
mengadakan sosialisasi tenaga nuklir secara tepat dan berimbang. Marilah kita hentikan global
warming dan krisis energi dengan mendukung teknologi nuklir.


Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir

Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

Saat ini, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama
Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkoninfo) melakukan sosialisasi di Jateng
mengenai rencana pembangunan proyek PLTN di Jepara. Rencananya, PLTN yang
dipersiapan beroperasi pada 2015 akan menambah catu daya sekitar 5.000 hingga 7.500
megawatt (MW). Proyek PLTN terpadu dengan perkirakan 5-6 reaktor, 1 reaktor
berkapasitas 600-1.000 MW. Rencana pembangunan PLTN di Indonesia kurang saya
setujui, karena faktor :
Keamanan. Indonesia adalah Negara kepulauan dan berada pada wilayah
Lingkaran Api atau tempat pusat bertemunya beberapa lempeng bumi, hal ini
menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami dan dapat
terjadi pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan kanker thyroid.
Ketergantungan Terhadap Negara Lain. Di Indonesia memang terdapat tambang
Uranium di Kalimantan, namun Uranium tersebut masih harus mengalami proses
pengolahan yang lama dan membutuhkan biaya banyak. Jika mau mudah, hanya bisa
membeli di negara lain. Artinya ketergantungan selama 40 tahun (masa hidup reaktor).
Biaya yang Mahal. Indonesia masih sangat kekurangan pengalaman tenaga kerja dan
butuh banyak peralatan yang harus di impor dari negara luar, hal itu akan menyebabkan
banyak memakan biaya yang sangat besar. Belum lagi jika terjadi kerusakan besar dan
memakan waktu perbaikan yang lama, Tenaga Ahli-nya pun harus yang sudah
berpegalaman, dan Tenaga Ahli yang sudah berpengalaman tersebut tidak terdapat di
Indonesia, maka harus melakukan pengeluaran besar untuk memanggil Tenaga Ahli dari
luar negeri tersebut.
Saran saya terhadap pembangunan PLTN di Indonesia adalah, sebaiknya di lakukan
pelatihan oleh Tenaga Ahli luar hingga dapat melaksanakannya sendiri terlebih dahulu,
mulai dari cara mengolah bahan baku, pembangunan, pendaur-ulangan limbah yang
mungkin dihasilkan, sampai kerusakan yang dapat terjadi. Sehingga kedepannya,
Indonesia tidak perlu membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku (karena sudah
dapat mengolah dengan baik), dan Tenaga Ahli untuk perbaikan. Karena ledakan
reaktor nuklir dapat menyebar hingga radius 15-25 KM. Sebaiknya pembangunan di
lakukan di daerah terpencil, dan dekat dengan sumber bahan baku. Sebab meskipun
terjadi kecelakaan, tidak menyebabkan efek yang terlalu besar bagi kehidupan disana.


Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir

Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

Di Indonesia gagasan untuk pembangunan PLTN sebenarnya telah ada semenjak
tahun 1956, namun pada tahun 1972 ide tersebut baru muncul bersamaan dengan
dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom
Nasional (BATAN), Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga listrik (Departemen PUTL).
Kemudian berlanjut dengan di adakannya seminar yang menghasilkan bahwa PLTN harus
di kembangkan di Indonesia dan pada saat itu juga di usulkan 14 tempat untuk
pembangunan PLTN yang salah satunya di Semenanjung Muria. Namun yang sangat di
sayangkan, sampai pada saat ini pembangunan PLTN belum juga dapat terlaksana di
karenakan banyaknya alasan-alasan.
Mengapa Indonesia sepertinya sangat ketakutan untuk membangun sebuah rektor
nuklir? Apakah dikarenakan dampaknya pada global warming? Padahal PLTN tidak
menyebabkan polusi udara yang begitu parah, limbah dari PLTN hanya berupa H2O, CO2,
dan limbah-limbah lain yang akan kembali pada kolam penampungan agar dampak dari
radiasi dapat di abaikan. Apakah karena takut dengan dampak negatif nuklir? Seharusnya
kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan karena reaktor nuklir telah
dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, selain itu
pembangunan PLTN dari tahap perencanaan rencangan bangunan sampai dengan tahap
dekomisioning akan di awasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Internasional dan Badan
Pengawas Dalam Negeri, jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal tersebut secara
berlebihan.
Kalau menurut saya sebaiknya pembangunan PLTN dilaksanakan di tempat yang
jauh dari pemukiman penduduk, agar masyarakat menjadi lebih tenang namun walaupun
begitu harus di adakan penyuluhan terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya warga
sekitar tempat pembangunan PLTN tentang PLTN tersebut, tujuannya agar masyarakat
dapat lebih tenang lagi, nyaman dan dapat mempercayai pemerintah. Jika perencanaan
sudah matang sebaiknya cepat dilaksanakan pembangunan PLTN karena batubara yang
selama ini kita pakai sudah tinggal sedikit persediaannya, selain itu masyarakat Indonesia
juga sangat membutuhkan PLTN agar mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir

NUKLIR PENYELAMAT PERADABAN

Nuklir PEnyelamat Peradaban?.Bagi sebagian orang judul ini membuat bingung dan resah.Tahun-tahun terakhir, isu akan adanya pembangunan PLTN di Indonesia membangunkan minat warga akan tenaga nuklir. Sebelumnya, bidang nuklir tidak terlalu terekspos keberadaannya. Masalahnya, setelah nuklir menjadi terekspos, yang menjadi dominan di masyarakat adalah pandangan negatif terhadap energi alternatif ini.
Nuklir adalah salah satu sumber energi alternatif yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika dipertimbangkan melalui logika, pemerintah saat ini terlihat enggan menyetujui eksplorasi lebih lanjut akan tenaga nuklir dan pemanfaatannya. Pemerintah lebih fokus untuk meningkatkan layanan tanpa memperhatikan ketersediaan sumber daya. Akibatnya, tarif listrik pun terus meningkat. Padahal dari sekian banyak sumber energi, telah diteliti bahwa nuklir akan mampu menyumbang listrik sebesar 10% dari jumlah permintaan listrik di Indonesia.
Kesadaran akan lingkungan juga membawa nuklir pada topik berwawasan lingkungan atau tidak. Jawabannya adalah ya, nuklir adalah energi yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka pelestarian lingkungan, nuklir turut berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan global warming. Emisi CO2 nuklir ke udara jauh lebih sedikit dari pada sumber energi lain. Untuk ketersediaan Uranium, sebagai bahan baku reaktor nuklir, lebih besar dibandingkan dengan sumber energi lain. Yaitu, umur tenaga nuklir dapat mencapai 3600 tahun, sedangkan bahan bakar minyak akan habis 42 tahun lagi. Tanpa listrik, dunia akan menjadi kegelapan semata bukan? Inilah saatnya nuklir menjadi penyelamat peradaban.
Untuk Indonesia, diperlukan komitmen yang besar untuk membangun PLTN. Keselamatan dan kepengurusan limbah nuklir harus menjadi yang utama dalam pengadaan PLTN. Masih diperlukan sumber daya manusia yang secara kualitas dinyatakan lulus untuk mengurusi bidang ini. Sayangnya, ketertinggalan dalam bidang IPTEK terpampang jelas dalam aksi-aksi penolakan nuklir. Fakta tersebut sebaiknya dijadikan tantangan bagi bangsa Indonesia sendiri untuk mengambil tindakan yang secara ekonomis menguntungkan, yaitu penggunaan energi nuklir. Mungkin masih diperlukan waktu dalam menciptakan persetujuan mayarakat akan tenaga nuklir ini. Tetapi jika tidak dilakukan sekarang, kapan lagi?

Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir

Balada PLTN di Indonesia

Balada PLTN di Indonesia

PLTN merupakan ide yang diangkat pada tahun 1956, melaui pernyataan pada
seminar-seminar pada masa itu. Artinya rencana PLTN di Indonesia sudah berumur kurang
lebih 54 tahun. Meski sudah lama bekerja sama dalam perencanaan, perancangan, dan
sebagainya. PLTN di Indonesia masih belum juga dibangun dengan sebab dan alasaan yang
beraneka ragam. Dari sekian banyak tempat yang pernah diusulkan untuk membangun
sbuah poyek PLTN, akhirnya hanya Semenjung Muria-lah yang terpilih. Meski sampai
sekarang PLTN masih menuai banyak kecaman berupa penolakan, terutama warga desa
sekitar tempat yang direncanakan akan dibangun PLTN tersebut, Desa Balong.
Sampai saat ini, yang masih membuat bingung adalah, mengapa harus Semenanjung
Muria? Bahkan ada kabar daerah Banten juga akan dibangun PLTN. Mungkin saja
penolakan-penolakan yang terjadi selama ini karena ada dua f-brothers (ciptaan penulis).
Mereka adalah Green Community dan WWF dan yang ingin penulis tekankan, mengapa
mereka ikut menolak? Bukankah di negara mereka juga dibangun PLTN? Memang,
Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai paru-paru dunia karena hutannya yang luas nan
lebat. Tapi Indonesia juga tidak kalah sering mendapat kecaman, dampak isu global
warming. Mengapa? Bukankan limbah PLTN hanya berupa air, CO2, dan limbah lain yang
harus dkembalikan?
Untuk itu, hendaknya Indonesia harus berani melawan.
Harus ada orang Indonesia
yang membuktikan bahwa tidak benar tingkat “penghasilan” gas CO2 di Indonesia sangat
tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu mendesak instansi-instansi terkait untuk mencari
tempat baru yang kira-kira lebih mungkin untuk dibangun PLTN. Bukankah Indonesia
memiliki beribu-ribu pulau? Hendaknya kita membangun PLTN di pulau terpencil agar
tidak ada yang protes. Jikalau masih ada, karena alasan pencemaran laut, kita minta saja
badan internasional yang menangani masalah nuklir untuk ikut mengawasi. PLTN sangat
dibutuhkan di Indonesia, bagaikan tubuh yang kekurangan darah, Indonesia tidak akan
mampu berkembang secara optimal jikalau masih ada permasalahan energi, khusunya
listrik.

Balada PLTN di Indonesia for TopCop2010


Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir